Sabtu, 13 Juli 2013

ASKEP TRAKEOSTOMI



1.1  Definisi
Tracheostomi adalah prosedur pembuatan lubang permanen atau sementara melalui tindakan bedah ke dalam trachea pada cincin trachea kedua, ketiga atau keempat dan pemasangan selang indwelling untuk memungkinkan ventilasi dan pembuangan skresi.(Lynda Juall Carpenito, 1999 ).
Trakeostomi adalah tindakan membuat stoma atau lubang agar udara dapat masuk ke paru-paru dengan memintas jalan nafas bagian atas (adams, 1997). Trakeostomi merupakan tindakan operatif yang memiliki tujuan membuat jalan nafas baru pada trakea dengan mebuat sayatan atau insisi pada cincin trakea ke 2,3,4.
Trakeostomi merupakan suatu prosedur operasi yang bertujuan untuk membuat suatu jalan nafas didalam trakea servikal. Perbedaan kata – kata yang dipergunakan dalam membedakan “ostomy” dan “otomy” tidak begitu jelas dalam masalah ini, sebab lubang yang diciptakan cukup bervariasi dalam ketetapan permanen atau tidaknya. Apabila kanula telah ditempatkan, bukaan hasil pembedahan yang tidak dijahit dapat sembuh dalam waktu satu minggu. Jika dilakukan dekanulasi (misalnya kanula trakeostomi dilepaskan), lubang akan menutup dalam waktu yang kurang lebih sama. Sudut luka dari trakea yang dibuka dapat dijahit pada kulit dengan beberapa jahitan yang dapat diabsorbsi demi memfasilitasi kanulasi dan, jika diperlukan, pada rekanulasi; alternatifnya stoma yang permanen dapat dibuat dengan jahitan melingkar (circumferential). Kata trakeostomi dipergunakan, dengan kesepakatan, untuk semua jenis prosedur pembedahan ini. Perkataan tersebut dianggap sebagai sinonim  dari trakeotomi.

1.2  Tujuan
1.      Untuk mengatasi obstruksi laring
2.      Untuk mengurangi ruang rugi (dead air spase) di saluran nafas bagian atas seperti  daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya stoma maka seluruh oksigen yang hirupnya akan masuk ke dalam paru tidak ada yang tertinggal di ruang rugi itu. Hal ini berguna pada penderita dengan kerusakan paru yang kapasitas vitalnya berkurang.
3.      Untuk mempermudah penghisapan sekret dari bronkus dari penderita yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik misalnya pada penderita dalam keadaan koma.
4.      Untuk memasang respirator (alat bantu pernafasan)
5.      Untuk mengambil benda asing dari subgiotik apabila tidak mempunyai fasilitas untuk  bronkoskopi.


1.3  Fungsi Trakeostomi
Fungsi dari trakheostomi antara lain:
1.   Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Asal lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7)
2.   Proteksi terhadap aspirasi
3.   Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan
4.   Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan
5.   Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus respiratorius
6.   Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang norma.
1.4  Indikasi dan kontraindikasi
1.      Indikasi dari trakeostomi antara lain:
a.       Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
b.      Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
c.       Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
d.      Apabila terdapat benda asing di subglotis
e.       Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa


f.       Obstruksi laring
1.      karena radang akut, misalnya pada laryngitis akut, laryngitis difterika, laryngitis membranosa, laringo-trakheobronkhitis akut, dan abses laring
2.      karena radang kronis, misalnya perikondritis, neoplasma jinak dan ganas, trauma laring, benda asing, spasme pita suara, dan paralise Nervus Rekurens
g.      Sumbatan saluran napas atas karena kelainan kongenital, traumaeksterna dan interna, infeksi, tumor.
h.      Cedera parah pada wajah dan leher
i.        Setelah pembedahan wajah dan leher
j.        Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi
k.      Penimbunan sekret di saluran pernafasan. Terjadi pada tetanus, trauma kapitis berat, Cerebro Vascular Disease (CVD), keracunan obat, serta selama dan sesudah operasi laring
2.      Kontraindikasi dari trakheostomi antara lain :
Infeksi pada tempat pemasangan, dan gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol, seperti hemofili.
2.6  Klasifikasi
1.      Menurut letak insisinya, trakeostomi dibedakan menjadi:
a)      Trakeostomi elektif             : Insisi horisontal
b)      Trakeostomi emergensi       : Insisi vertikal 
2.      Menurut waktu dilakukannya tindakan, trakeostomi dibedakan menjadi:
a)      trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang
b)      trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik
3.      Menurut lamanya pemasangan, trakheostomi dibagi menjadi:
a)      Tracheal stoma post laryngectomy: merupakan tracheostomy permanen. Tracheal cartilage diarahkan kepermukaan kulit, dilekatkan pada leher. Rigiditas cartilage mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga tidak diperlukan tracheostomy tube (canule).
b)     Tracheal stoma without laryngectomy: merupakan tracheostomy temporer. Trachea dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi. Digunakan tracheostomy tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal (terutama pada penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama pelaksanaan MRI Scanning)
2.7  Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan fungsi paru ; menentukan kemampuan paru untuk pertukaran gas karbondioksida dan termasuk tetapi tidak terbatas pada hal berikut ini :
GDA ; mengkaji status oksigenasi dan ventilasi dan keseimbangan asam basa.
Kapasitas vital (VC) ; menurun pada keterbatasan dada atau kondisi paru ; normal atau meningkat pada PPOM ; normal atau menurun pada penyakit neuromuscular (Guillain-Barre) ; menurun pada kondisi keterbatasan gerak torax (kifoskoliosis)
Kapasitas vital kuat (FVC) ; (diukur dengan spirometri) menurun pada kondisi restriktif
Volume tidal (VT) ; dapat menurun pada proses restriktif atau obstruktif
Inspirasi negative kuat (NIF) ; dapat mempengaruhi kapasitas vital untuk membantu menentukan apakah pasien dapat bernafas.
Ventilasi menit ; mengukur volume untuk inhalasi dalam 1 menit pernafasan normal.
Tekanan inspirasi (Pimax) ; mengukur regangan otot pernafasan
Volume ekspirasi kuat (FEV ; biasanya menurun pada PPOM
Aliran-Volume (F-V) loop ; Loop tak normak menunjukkan penyakit jalan nafas besar dan kecil dan penyakit keterbatasan bila berlanjut.
Sinar x dada ; mengawasi perbaikan/kemajuan kondisi atau komplikasi
2.8  Komplikasi
1.      Waktu tindakan operasi:
a)      Perdarahan           
b)      Cardiac arrest
c)      Perforasi                
d)     Emboli udara
e)      Ruptur pleura servikalis
f)       Apneu
g)      Sumbatan darah / sekret
2.      Setelah operasi:
a)      Infeksi
b)      Perdarahan
c)      Sumbatan kanul
d)     Pergeseran stenosis   
e)      Pembentukan jar. granulasi
f)       Aspirasi, atelektasis
g)      Pneumotoraks
h)      Pipa trakeostomi tercabut
i)        Emfisema subkutis
3.      Komplikasi Jangka panjang 
a)      Obstruksi jalan nafas atas
b)      Infeksi
c)      Fistula trakeoesofagus
d)     Stenosis trakea
e)      Iskemia atau nekrosis trakea
2.9  Penatalaksanaan
1.      Jenis Tindakan Trakeostomi
a)      Surgical trakeostomy
Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm.
b)      Percutaneous Tracheostomy
Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincin trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil.
c)      Mini tracheostomy
Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator.
2.    Jenis Pipa Trakeostomi
a)      Cuffed Tubes
Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil risiko timbulnya aspirasi.
b)      Uncuffed Tubes
Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak mempunyai risiko aspirasi.
c)      Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam)
 Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah terjadi obstruksi
d)     Silver Negus Tubes
Terdiri dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka panjang. Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat sendiri.
e)      Fenestrated Tubes
Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya, sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya. Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat berbicara.

3.      Prosedur Pemasangan Tracheostomy
1.      Persiapan Alat-Alat Trakeostomi
a.       spuit yang berisi obat analgesia
b.      bisturi
c.       pinset anatomi
d.      gunting panjang tumpul
e.       sepasang pengait tumpul
f.       klem arteri
g.      gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan ukuran sesuai.
2.      Teknik Trakeostomi
a.       Pasien tidur terlentang,bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atalantooksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak di garis median dekat permukaan leher.
b.      Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kain steril.
c.       Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa suprasternal secara infiltrasi.
d.      Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter.
e.       Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan ini dan jaringan di bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan.
f.       Pembuluh darah yang tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem ini dilepaskan ismuth tiroid diikat keda tepinya dan disisihkan ke lateral.
g.      Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat.
h.      Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik.
i.        Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam.
j.        Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai.
k.      Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup dengan kasa.
l.        Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit.

2.10   Perawatan trakeostomi
1.      Fisioterapi nafas
Pengertian
Fisioterapi nafas adalah suatu usaha untuk mengeluarkan secret dari dalam paru-paru atau trakea untuk mempertahankan fungsi otot-otot pernafasan.
Tujuan
1.      Untuk mempertahankan , memperbaiki dan mencapai keefektifan dari seluruh bagian paru-paru, termasuk relaksasi otot-otot pernafasan.
2.      Untuk mencegah kolaps dari pada bagian paru-paru yang disebabkan oleh terhambatnya sekresi secret.
3.      Menghindarkan terjadinya bronkco pneumonia dan komplikasi lainnya.
Indikasi
1.      PPOM:
·         Asthma
·         Bronchitis kronis
·         Emphysema
2.    Pasca operasi toraks, system kardiovaskuler
3.    Berbaring lama
4.    Neuromuscular dengan reflek batuk menurun
5.    Klien yang terganggu alat ventilasi
Kontraindikasi
1.      Kelainan faal hemastasis
2.      Klien dengan tekanan intra cranial meningkat
3.      Pre operasi karsinima paru
4.      Hemaptoe
Macam-macam fisioterapi nafas
1.      Latihan pernafasa (breathing Excersice)
2.      Menepuk-nepuk dada (Clapping)
3.      Menggetarkan (Vibrating)
4.      Posisi drainage
Persiapan klien dan alat:
1.      Klien diberi tahu tentang tindakan yang akan dilakukan
2.      Atur posisi klien sesuai dengan daerah mana yang akan dilakukan fisioterapi nafas
3.      Stetoskop
4.      Bantal
5.      Handuk
6.      Bedak talk

2.      Latihan pernafasan (breathing excersice)
Tujuan:
Membantu melancarkan pengeluaran sekret dan merangsang terjadinya batuk serta mendapatkan pengembangan yang maksimal dari pada bagian paru-paru yang terkena penyakit.
Bentuk latihan:
a.       Pernafasan diagfragma
Melatih klien bagaimana caranya bernafas dalam, dengan menggunakan diagfragma. Caranya:
a.       Klien disuruh menarik nafas lewat hidung, kemudian disuruh menghembuskan nafas lewat hidung secara pelan-pelan.
b.      Klien disuruh bernafas dalam seperti pada point ”a” dengan frekuensi 5-20 kali tarikan nafas/hembusan nafas, lalu dibatukan.
c.       Latihan nafas dilakukan setiap 1-2 jam.
b.      Batuk
Tujuan dari latihan batuk untuk mengeluarkan benda asing dari dalam saluran pernafasan secara efesien termasuk mengeluarkan secret dari traktus respiratorius. Pada batuk yang produktif, pengeluaran dari mucus dan debu-debuyang lain dari batangtrakeal yang harus dikeluarkan. Kadang-kadang sangat penting untuk menghindarkan ketahanan untuk klien yang sesak nafas kronis dan memerlukan tenaga lebih banyak untuk bernafas. Faktor-faktor yang menunjang terjadinya batuk yang adekuat adalah:
a.       Susunan saraf pusat yang intake
b.      Kemampuan menarik nafas dalam dan menghembuskan keuar dengan cepat (minimal 2x minute volume)
c.       Fungsi glottis yang normal
d.      Kekuatan otot-otot dinding depan abdomen yang cukup
3.    Menepuk-nepuk dada (clapping)
Tujuan:
Untuk membantu mendorong dalam mengeluarkan secret didalam paru-paru yang diharapkan dapat keluar secara gaya berat (gravitasi). Teknik ini dilakukan dengan menepuk-nepukkantangan dalam posisi tertelungkup.
Caranya:
a.       Menepuk-nepuk pada dinding thorak klien (± 30 menit satu kali fisioterapi nafas)
b.      Penepukan dapat membuat secret terlepas, sehingga udara dapat masuk ke paru-paru dan secret bias keluar kea rah bronkus dan trakea, lalu klien disuruh batuk
c.       Pada waktu penepukan perhatikanlah keadaan umum klien dan reaksi klien
4.    Menggetarkan (vibrating)
Tujuan:
a.       Merangsang terjadinya batuk
b.      Membantu melancarkan pengeluaran secret
Caranya:
a.       Klien disuruh bernafas diagfragma
b.      Letakan kedua tangan diatas dinding thorak pada waktu klien mengeluarkan nafas, kita lakukan tindakan mengetarkan tangan (vibrating)
c.       Setelah dilakukan vibeasi sebanyak 3-4 kali, lalu klien disuruh batuk.
5.    Posisi drainage
Tujuan:
a.       Dengan posisi drainage, tidak akan terjadi penimbunan secret didalam paru-paru
b.      Mencegah terhambatnya saluran bronkus, dengan demikian mencegah kolaps dari paru-paru
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
a.       Perubahan posisi dapat menyebabkan turunnya tekanan darah pada klien-klien dengan hemodinamik yang belum stabil.
b.      Penempatan posisi klien yang diperlukan hanya dilakukan sejauh tidak ada kontraindikasi dari penyakit dasarnya. Misalnya harus disesuaikan dengan prinsip perubahan posisi klien dengan trauma tulang belakang dan trauma kepala.
c.       Sebaiknya dilakukan sebelum waktu makan (jangan pada perut yang penuh)
6.      Bronchial toilet
Pengertian
Mengeluarkan cairan atau lender dari mulut, hidung atau trakea klien yang tidak dapat mengeluarkannya secara  spontan.
Tujuan
a.       Mempertahankan jalan nafas tetap bebas.
b.      Membersihkan secret pada klien yang batuk tidak adekuat.
Indikasi
Kasus-kasus tertentu yang dengan tindakan suction mengundang bahaya:
a.       Klien dengan tekanan intra cranial meningkat
b.      Klien dengan oedema paru
Komplikasi
a.       Hipoksia
b.      Bradikardi
c.       Aritmia
d.      Cardiac arrest
e.       Trauma mukosa jalan nafas
f.       Infeksi

Persiapan klien
a.       Klien diberitahu tentang tindakan yang akan dilakukan
b.      Posisi di atur sesuai dengan kondisi klien
Persiapan petugas
Petugas 2 oarang (klien dengan respirator)
a.       Satu memberikan oksigenasi
b.      Satu melakukan suction
Persiapan alat-alat
a.       Alat suction
b.      Oksigen dengan perlengkapannya
c.       Bag and mask/ambu bag dan selang oksigen
d.      Kateter suction steril
e.       Kasa steril 2-3 lembar
f.       Alcohol 70%
g.      Cairan NaCl 0,9% atau aqua steril
h.      Kom berisi air bersih
i.        Stetoskop
j.        Bengkok
k.      Spuit 2,5cc steril
Pelaksanaan
a.       Auskultasi paru-paru
b.      Beritahu klien
c.       Atur kekuatan suction
d.      Cuci tangan
e.       Periksa vital sign
f.       Pre oksigenasi dengan oksigen 100%
g.      Memakai sarung tangan atau menggunakan pinset
h.      Mengambil kateter suction steril
i.        Ambil kasa 2-3 lembar dibasahi alcohol
j.        Kateter disambung dengan selang suction yang sudah diatur
k.      Konektor tube atau tracheostomi dibuka dan didesinfeksi menggunakan alcohol
l.        Kateter dimasukan kedalam trakea dalam keadaan tidak menghisap
m.    Setelah kateter suction masuk sampai pada batasnya, tarik ± 1 cm baru ditarik pada posisimenghisap sambil diputar.
n.      Lama penghisapan tidak boleh lebih dari 10 detik
o.      Kateter dibersihkan dengan kasa alcohol lalu dibilas dengan NaCl 0,9% atau aqua steril
p.      Penghisapan dilakukan berulang-ulang sampai suara nafas bersih
q.      Mendengarkan nafas dengan stetoskop
r.        Kalau perlu cek foto thorax dan gas darah

7.    Nebulizer dan humidifikasi
Pengertian nebulizer
Nebulizer adalah pelembab yang membentuk aerosol, kabut butir-butir kecil air (garis tengahnya 5-10 micron)
Tujuan
1.      Untuk mengencerkan secret dengan jalan memancarkan butir-butir air melalui jalan nafas.
2.      Pemberian obat-obat aerosol.
Indikasi
a.       Post extubasi
b.      Dengan status asmatikus
c.       Laring oedema
d.      Klien dengan sputum yang kental
e.       Sebelum dilakukan fisioterapi nafas
f.       Pada keadaan tertentu dapat diberikan bersamaan dengan ventilator
Jenis-jenis nebulizer
a.       Jet nebulizer
Udara/gas menyemburkan butir air sedemikian rupa sehingga pecah menjadi butir-butir kecil
b.      Ultrasonic nebulizer
Getaran ultrasonic memecah air menjadi butir-butir kecil kemudian didorong oleh udara/gas.
Persiapan alat-alat
1.      Nebulizer dan perlengkapan
2.      Obat-obat untuk terapi aerosol bila diperlukan
3.      Stetoskop
4.      Aquadest
5.      Selang oksigen
6.      Masker transparan
7.      Bengkok
8.      Tissue
Persiapan klien
1.      Klien diberitahu tentang tindakan yang akan dilakukan oleh petugas
2.      Atur posisi klien, bias duduk atau setengah duduk
Prosedur pemberian nebulizer
1.      Beritahu klien
2.      Dekatkan alat-alat
3.      Nebulizer dihubungkan dengan oksigen
4.      Atur waktu dan kelembaban sesuai dengan kondisi klien
5.      Sebelum melakukan nebulizer, dengarkan dulu suara nafas
6.      Anjurkan klien untuk nafas panjang dan menghisap udara keluar, penghisapan udara dilakukan dari hidung dan dikeluarkan melalui mulut
7.      Setelah 10x nafas, anjurkan klien untuk batuk dan mengeluarkan sekretnya
8.      Lakukan clapping untuk mempermudah mengeluarkan secret
9.      Dengarkan kembali suara nafas
10.  Bersihkan mulut klien menggunakan tissue dan rapikan alat
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Waktu pemberian nebulizer
Ø  Klien bias mengalami keracuanan air
Ø  Tidak boleh diberikan pada klien yang battuknya tidak efektif
2.      Perhatikan secret yang keluar apabila masih bercampur darah, klien post thoracotomi/open heart
Pengertian Humidifikasi
Adalah memberikan uap air pada terapi oksigen untuk klien yang bernafas spontan lewat jalan nafas dank lien yang menggunakan alat bantu nafas.
Tujuan
Melembabkan dan menghangatkan udara pernafasan yang dihirup oleh klien.
Indikasi
1.      Terapi oksigen
2.      Klien dengan jalan nafas buatan (memakai pipa endotracheal atau tracheostomy)
3.      Klien dengan sputum yang kental
Jenis-jenis humidifikasi
1.      Humidifikasi dingin
Hanya menambah sedikit uap air pada udara pernafasan misalnya cara “bubble through” yang dipakai untuk menambah uap air pada terapi oksigen, pada klien yang bernafas spontan (lewat jalan nafas normal)
2.      Humidifikasi hangat
Dengan pemanasan didapatkan uap air yang lebih jenuh dan dapat mencapai 100% RH. Pada respirator humidifikasi merupakan suatu kelengkapan yang esensial dn umumnya mempunyai pengatur suhu.
      Persiapan alat
1.      Masker tracheostomi
2.      Masker transparan
3.      Selang oksigen
4.      Buble humidifier
5.      Aquadest
Persiapan klien
1.      Beritahu klien tentang apa yang dilakukan
2.      Atur posisi klien
Prosedur pemberian humidifier
1.      Beritahu klien, dekatkan alat-alat pada klien
2.      Hidupkan oksigen+flownya dan sesuaikan dengan kebutuhan pasien
3.      Masker+selang oksigen dihubungkan pada botol humidifier
4.      Pasangkan pada klien
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1.      Aquadest harus diganti tiap 24 jam
2.      Suhu humidifier
3.      Aquadest yang ada dalam humidifier, aquadest harus tetap ada pada batas yang telah tertera dibotol.
           

ASUHAN KEPERAWATAN
Konsep asuhan keperawatan pada klien trakeostomi merujuk pada konsep yang dikutip dari Doenges (2000), seperti dibawah ini :
A. Pengkajian
Pengumpulan data tergantung pada patofisiologi dan/atau alasan untuk dukungan bantuan ventilasi (trakeostomi), misalnya trauma dada (pneumothorax, hemothorax).
4.      Aktivitas/istirahat
Gejala : dispnea dengan istirahat ataupun aktivitas
5.      Sirkulasi
Tanda : takikardia, frekuensi tak teratur, nadi apical berpindah oleh adanya penyimpangan medaistinal. TD hiper/hipotensi
6.      Makanan/cairan
Gejala : anorexia (mungkin karena bau sputum)
Tanda : pemasangan IV line,
7.      Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri area luka trakeostomi, nyeri dada unilateral meningkat karena batuk atau bernafas
Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkan wajah
8.      Pernafasan
Gejala : kesulitan bernafas, batuk (mungkin gejala yang ada), riwayat trauma dada.
Tanda : peningkatan frekuensi nafas, kulit cyanosis, penggunaan ventilasi mekanik (trakeostomi), secret pada selang trakeostomi
9.      Hygiene
Tanda : kemerahan area luka trakeostomi
10.  Interaksi social
Tanda : ketidakmampuan mempertahankan suara karena distress pernafasan, keterbatasan mobilitas fisik.
B.     Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami trakeostomi adalah sebagai berikut :
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan benda asing (jalan nafas buatan) pada trakea
2.      Gangguan komunikasi verbal berhubunhan dengan hambatan fisik, contoh selang trakeostomi, paralisis neuromuscular.
3.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan tubuh (penurunan kerja silia, statis cairan tubuh), tidak adekuat pertahanan sekunder (tekanan imun), prosedur invasive.
C.    Intervensi.
1.      Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan benda asing (jalan nafas buatan) pada trachea, ketidakmampuan batuk efektif.
Intervensi :
Mandiri
-          Kaji kepatenan jalan nafas
R/ obstruksi dapat disebabkan oleh akumulasi secret, perlengketan mukosa, perdarahan, spasme bronkus dan atau masalah dengan posisi trakeostomi/selang endotrakeal.
-          Evaluasi gerakan dada dan asukultasi bunyi nafas bilateral
R/ gerakan dada simetris dengan bunyi nafas melalui area paru menunjukkan letak selang tepat/tak menutup jalan nafas.
-          Awasi letak selang endotrakeal. Catat tanda garis bibir dan bandingkan dengan letak yang diinginkan. Amankan selang dengan hati-hati dengan plester atau penahan selang.
R/ selang endotrakeal dapat masuk ke bronkus kanan, sehingga menghambat aliran udara ke paru kiri dan pasien beresiko untuk pneumotorax tegangan.
-          Catat batuk berlebihan, peningkatan dispnu, secret terlihat pada selang endotrakeal/trakeostomi, peningkatan ronkhi.
R/ pasien intubasi biasanya mengalami reflex batuk tak efektif atau pasien dapat mengalami gangguan neuromuscular atau neurosensori
-          Lakukan suctioning sesuai kebutuhan, batasi penghisapan 15 detik atau kurang. Pilih kateter yang tepat, isikan cairan garam faal steril, bila diindikasikan. Hiperventilasi dengan kantung sebelum penghisapan, gunakan oksigen 100% bila ada.
R/ penghisapan tidak harus rutin, dan lamanya harus dibatasi untuk menurunkan bahaya hipoksia. Kateter penghisap diameternya harus kurang dari 50% diameter dalam trakeostomi untuk mencegah hipoksia. Hiperventilasi dengan kantung atau nafas panjang ventilator pada oksigen 100% mungkin diinginkan untuk menurunkan atelektasis dan untuk menurunkan hipoksia tiba-tiba.
-          Anjurkan pasien untuk melakukan teknik batuk selama penghisapan contoh menekan, nafas pada waktunya dan batuk segi empat sesuai indikasi.
R/ meningkatkan keefektifan upaya batuk dan pembersihan secret.
-          Ubah posisi/berikan cairan dalam kemampuan individu
R/ meningkatkan drainage sekret dan ventilasi pada semua segmen paru, menurunkan resiko atelektasis.
-          Dorong/berikan cairan dalam kemampuan pasien
R/ membantu mengencerkan secret, meningkatkan pengeluaran.
Kolaborasi
-          Berikan fisioterapi dada sesuai indikasi, misal postural drainage, perkusi
R/ meningkatkan ventilasi pada semua degmen paru dan alat drainage secret.
-          Berikan bronkodilator IV dan aerosol sesuai indikasi, misal aminophilin, idiotharine hidroklorida
R/ meningkatkan ventilasi dan membuang secret dengan relaksasi otot halus/spasme bronkus.

-          Bantu bronkoskopi serat optic bila diindikasikan.
R/ dapat dilakukan untuk membuang secret/perlengketan mukosa.

2.    Gangguan komunikasi verbal. Dapat berhubungan dengan hambatan fisik, contoh selang trakeostomi, paralisis neuromuscular.
Intervensi :
Mandiri
-          Kaji kemampuan pasien untuk berkomunikasi dengan pilihan arti
R/ alasan untuk dukungan ventilator jangkan panjang bermacam-macam ; pasien dapat sadar dan beradaptasi pada penulisan. Metode komunikasi dengan pasien sangat individual.
-          Buat cara-cara komunikasi contoh memperhatikan kontak mata, tanyakan pertanyaan ya/tidak, berikan magic slate, kertas/pensil. Gambar/alphabet, gunakan tanda bahasa yang tepat, validasi arti upaya komunikasi.
R/ kontak mata menjamin minat komunikasi pasien ; bila pasien mampu untuk menggerakkan kepala, mengedipkan mata, atau nyaman melakukan gerak tubuh, penerimaan dapat dilakukan dengan pertanyaan ya/tidak. Penunjukkan ke papan huruf atau menulis sering melelahkan pasien, kemudian menjadi frustasi karena upaya diperlukan untuk percakapan. Penggunaan papan gambar yang menunjukkan konsep atau kebutuhan rutin dapat menyederhanakan komunikasi.
-          Letakkan bel pemanggil dalam jangkauan, yakinkan pasien sadar dan secara fisik mempu menggunakannya.
R/ lebih mampu untuk rileks, merasa aman.
-          Letakkan catatan pada pusat pemanggil informasi staf bahwa pasien tidak mampu bicara.
R/ menyadarkan semua staf untuk berespons pada pasien di tempat tidur sebagai ganti melalui intercom.
-          Dorong keluarga terdekat bicara dengan pasien, berikan informasi tentang keluarga dan kejadian sehari-hari.
R/ orang terdekat dapat sadar diri dalam perbincangan satu arah, tetapi pengetahuan bahwa ia mampu membantu pasien untuk meningkatkan kontak dengan realita sehingga memungkinkan pasien manjadi bagian dari keluarga dapat menurunkan perasaan kaku.

3.    Resiko tinggi infeksi dapat berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan tubuh (penurunan kerja silia, statis cairan tubuh), tidak adekuat pertahanan sekunder (tekanan imun), prosedur invasive.
Intervensi :
Mandiri
-          Catat faktor resiko terjadinya infeksi
R/ intubasi, ventilasi mekanik lama, ketidakmampuan umum, malnutris, prosedur invasif, perawatan trakeostomi inadekuat adalah factor dimana pasien potensial mengalami infeksi dan lama sembuh. Kesadaran akan factor resiko memberikan kesempatan untuk membatasi efeknya.
-          Observasi warna/bau/karakteristik sputum. Catat drainase sekitar selang trakeostomi.
R/ kuning/hijau, sputum berbau purulen menujukkan infeksi, sputum kental, lengket diduga dehidrasi.
-          Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, teknik penghisapan steril.
R/ sederhana tapi penting mencegah infeksi nosokomial.
-          Batasi pengunjung
R/ individual telah berada pada resiko tinggi infeksi.
-          Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi.
R/ membantu memperbaiki tahanan umum untuk penyakit dan menurunkan resiko infeksi dari statis secret.
Kolaborasi :
-          Ambil kultur sputum sesuai indikasi
R/ mengidentifikasi pathogen dan antimikrobial yang tepat
-          Berikan antibiotic sesuai indikasi
R/ satu atau lebih agen dapat digunakan tergantung pada identifikasi pathogen bila infeksi terjadi


DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marylin E. dkk. (2000). Rencana asuhan dan dokumentasi keperawatan. Edisi 3.   Jakarta: EGC.
Lab. SMF Anastesi-Reanimasi, 2000, Pelatihan ICU tingkat dasar, Surabaya: FK Unair-RSUD Dr. Soetomo
Reeves, Charlene J. Dkk. 2001. Keperawatan medikal bedah. Jakarta: Salemba Medika.
Trakeostomi. Avilable from http.www.detikhealth.com. accesed at April 5, 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar