Selasa, 05 Februari 2013

ASKEP KERATITIS



BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA


2.1   Fisiologi Kornea

Brunner and Suddarth, (2001) mengemukakan bahwa kornea (berasal dari bahasa latin Cornum: seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan. Kornea ini disisipkan di sklera di limbus, lekuk melingkar pada persambungan ini disebut sulkus sklelaris. Kornea dewasa rata-rata mempunyai tebal 0,54 mm di tengah, sekitar 0,65 mm di tepi, dan diameternya sekitar 11,5 mm. Kornea terdiri atas lapis :

1.    Epitel

Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih. Satu lapis se; basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligon di depannya melalui desmosom dan makula okluden. Ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2.      Membran Bowman

Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3.      Stroma

Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan yang lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang di bagian perifer serat kolagen ini bercabang, terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sela stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4.  Membran Descement

Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya. Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 μm.



5.  Endotel

Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, besar 20 – 40 μm. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidesmosom dan zonula okiuden. Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V saraf siliar longus berjalan suprakoroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung schwannya. Seluruh lapis epitel dipersarafi sampai pada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus krause untuk sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan. Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi, dan cedera kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Trauma atau penyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel terganggu sehingga dekompensasi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, di mana 40 dioptri dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea. Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humor agvaeus, dan air mata. Kornea superficial juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer.

2.3  Pengertian

Menurut Arif Mansjoer (2000), keratitis adalah peradangan pada kornea. Keratitis merupakan kelainan akibat terjadinya infiltrasi sel radang pada kornea yang akan mengakibatkan kornea menjadi keruh (Ilyas, 2001 ).

Gambar 2.3.1 Keratitis


2.4  Klasifikasi

Radang kornea biasanya diklasifikasikan sebagai berikut :
1.         Keratitis Pungtata
Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis Pungtata terbagi lagi yaitu Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel. Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus. Keratitis Pungtata terbagi lagi yaitu Keratitis Pungtata Superfisial dan Keratitis Pungtata Subepitel.
2.         Keratitis Marginal
Merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.
3.         Keratitis Interstisial
Ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam.
4.         Keratitis Bakterial
5.         Keratitis Jamur
Biasanya dimulai dengan suatu ruda paksa pada kornea oleh ranting, pohon, daun dan sebagian tumbuh-tumbuhan.
6.         Keratitis Virus
Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut. Keratitis virus antara lain: Keratitis herpetic, keratitis dendritik, keratitis disiformis, dan keratokonjungtivitis epidemi.
7.         Keratitis Dimmer atau Keratitis Numularis
Bentuk keratitis dengan ditemukannya infiltrat yang bundar berkelompok dan di tepinya berbatas tegas sehingga memberikan gambaran halo.
8.         Keratitis Filamentosa
Keratitis yang disertai adanya filament mukoid dan deskuamasi sel epitel pada permukaan kornea.
9.         Keratitis Alergi.
Keratokonjungtivitis flikten merupakan radang kornea dan konjungtiva yang merupakan reaksi imun yang mungkin sel mediated pada jaringan yang sudah sensitif terhadap antigen.
10.     Keratitis Fasikularis
Keratitis dengan pembentukan pita pembuluh darah yang menjalar dari limbus ke arah kornea.
11.     Keratitis Konjungitivitis vernal
Merupakan penyakit rekunen, dengan peradangan tarsus dan konjungtiva bilateral.

12.     Keratitis Lagoftalmus
Keratitis yang terjadi akibat adanya lagoftalmus di mana kelopak tidak dapat menutup dengan sempurna sehingga terdapat kekeringan kornea.


13.     Keratitis Neuroparalitik
Merupakan keratitis akibat kelainan saraf trigeminus, sehingga terdapat kekeruhan kornea yang tidak sensitif disertai kekeringan kornea.
14.     Keratokonjungtivitis Sika
Suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan konjungtiva.
15.     Keratitis Sklerotikan
Kekeruhan berbentuk segitiga pada kornea yang menyertai radang sklera atau skleritis.

2.5  Penyebab

Arif Mansjoer (2000), mengemukakan penyebab sehingga terjadinya keratitis, antara lain :
1.    Bakteri, seperti: Staphylococcus, streptococcus, pseudomonas dan pneumococcus
2.    Virus, seperti: Virus herpes simpleks dan virus herpes zoster
3.    Jamur, seperti: Candida dan aspergillus
4.    Hipersensitif: toksin/allergen
5.    Gangguan hervus trigeminus
6.    Idiopatik

2.6  Manifestasi Klinis

Ihsan (2009), berpendapat bahwa manifestasi klinis pasien dengan peradangan pada mata khususnya keratitis sering dijumpai, yaitu :
1.    Mata sakit, gatal dan silau
2.    Gangguan penglihatan (visus menurun)
3.    Mata merah dan bengkak
4.    Hiperemi konjungtiva
5.    Merasa kelilipan
6.    Gangguan kornea (sensibilitas kornea yang hipestesia)
7.    Fotofobi, lakrimasi, blefarospasme
8.    Pada kelopak terlihat vesikel dan infiltrat filament pada kornea.

2.7  Patofisiologi Narasi

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung yang uniform dan “jendela” yang dilalui berkas cahaya retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler, dan deturgesens. Deturgesens atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea, dipertahankan oleh fungsi sawar epitel. Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme ke dalam kornea dan merupakan satu lapis sel-sel pelapis permukaan posterior kornea yang tak dapat diganti baru. Sel-sel ini berfungsi sebagai pompa cairan dan menjaga agar kornea tetap tipis dan basah, dengan demikian mempertahankan kejernihan optiknya. Jika sel-sel ini cedera atau hilang, timbul edema dan penebalan kornea yang pada akhirnya mengganggu penglihatan (Ilyas, 2001).


2.9  Pemeriksaan Penunjang

Vera, H.D dan Margaret R.T, (2000), mengemukakan bahwa pemeriksaan  penunjang meliputi :
1.    Pemulasan fluorescein
2.    Kerokan kornea yang kemudian dipulas dengan pulasan gram maupun giemsa.
3.    Kultur untuk bakteri dan fungi.
4.    Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10 % terhadap kerokan kornea.
5.    Uji fluoresein
Untuk mengetahui adanya kerusakan pada epitelkornea akibat erosi, keratitis epitelial, bila terjadi defek epitel kornea akan terlihat warna hijau pada defek tersebut
6.    Uji sensibilitas kornea
Untuk mengetahui keadaan sensibilitas kornea yang berkaitan dengan penyakit mata akibat kelainan saraf trigeminus oleh herpes zooster ataupun akibat gangguan ujung saraf sensibel kornea oleh infeksi herpes simpleks
7.    Uji fistel
Untuk melihat kebocoran kornea atau fistel akibat adanya perforasi kornea
8.    Uji biakan dan sensitivitas
Mengidentifikasi patogen penyebab
9.    Uji plasido
Untuk mengetahui kelainan pada permukaan kornea

2.10       Pencegahan

1.    Antibiotic topical diberikan secara rutin setelah trauma kornea (juga pada tindakan bedah).
2.    Pencegahan kontaminasi perlu dilakukan terhadap penggunaan obat-obatan topical dan sterilitas penggunaan lensa kontak

2.11       Komplikasi

Komplikasi yang paling ditakutkan adalah penipisan kornea, descemetocele sekunder dan  perforasi kornea yang dapat mengakibatkan endophthalmitis dan hilangnya penglihatan

2.12       Prognosis

Prognosis bergantung pada beberapa factor:
1.    Virulensi organism.
2.    Lokasi dan perluasan ulkus kornea.
3.    Vaskularisasi dan deposit kolagen.
4.    Diagnosis awal dan terapi tepat dapat membantu mengurangi kejadian hilangnya penglihatan.


2.11   Penatalaksanaan Medis

Ihsan (2009), mengemukakan bahwa pasien dengan ulkus kornea berat biasanya dirawat untuk pemberian berseri (kadang sampai tiap 30 menit sekali), tetes antimikroba dan pemeriksaan berkala oleh ahli opthalmologi. Cuci tangan secara seksama adalah wajib. Sarung tangan harus dikenakan pada setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata. Kelopak mata harus dijaga kebersihannya, dan perlu diberikan kompres dingin. Pasien dipantau adanya peningkatan tanda TIO. Mungkin diperlukan asetaminofen untuk mengontrol nyeri. Siklopegik dan midriatik mungkin perlu diresep untuk mengurangi nyeri dan inflamasi. Tameng mata (patch) dan lensa kontak lunak tipe balutan harus dilepas sampai infeksi telah terkontrol, karena justru dapat memperkuat pertumbuhan mikroba. Namun kemudian diperlukan untuk mempercepat penyembuhan defek epitel.
Vera, H.D dan Margaret R.T., (2000) mengatakan bahwa pada pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian tetes antimikroba seperti gentamisin 5mg/ml, tobramisin15mg/ml, atau sefuroksim 50 mg/ml setiap 30 menit sekali dan pemeriksaan berkala, untuk keratitis yang disebabakan oleh virus herpes simpleks pasien perlu diberikan virustatika seperti IDU trifluorotimidin dan acyclovir sedangkan untuk keratitis akibat herpes zooster pasien diberikan obat simptomatis saja seperti analgetika, vitamin dan antibiotika topikal. Selain itu tameng mata ( patch ) dan lensa kontak perlu dilepas dahulu sampi infeksi terkontrol, karena akan memperkuat pertumbuhan mikroba.
Sedangkan pasien dengan konjungtivitis biasanya hilang sendiri tapi tergantung dengan jenis penyebabnya. Penatalaksanaan pasien dengan kongjungtivitis bakteri  sebelum terdapat pemerikaan mikrobiologi, klien dapat diberikan antibiotik unggal spektrum luas sepertigentamisin, kloramfenikol, polimiksin. Untuk konjungtivitis gonore, pasien dirawat dengan diberi penisillin salep dn suntikan untuk bayi dosisnya 50.000 unit/kg BB selama 7 hari. Sekret dibersihkan engan kapas yang dibasahi air rebus bersih atau garam fisiologis setiap 15 menit dan diberi salep penisillin. Selain itu pasien harus diajari bagaimana cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau orang lain, menanjurkan untuk tidak menggosok mata yang sakit kemudian mata yang sehat, menganjurkan untuk mencuci tangan setipa memegng mata yang sakit, menggunakan handuk, lap dan sapu tangan yang terpiah. Untuk konjungtivitis viral, penatalaksanaan bersifat simptomatik dan antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, untuk konjungtivitis herpetik diberikan antivirus asiklovir 400mg/hari selama 5 hari.sedangkan untuk konjungtivitis alergi biasanya akan sembuh sendiri, pengobatan ditujukan untuk menghindarkan penyebab dan menghilangkan gejala, sedangkan konjungtivitis sika diberikan air mata buatan.
Penatalaksanaan untuk uveitis, terapi perlu segera dilakukan untuk mencegah kebutaan, diberikan steroid tetes mata pada siang hari dan salep pada malam hari.


2.11   Konsep Asuhan Keperawatan

1.    Pengkajian

a.         Keluhan utama
Tanyakan kepada klien adanya keluhan seperti nyeri, mata berair, mata merah, silau dan sekret pada mata
b.        Riwayat penyakit sekarang
Informasi yang dapat diperoleh meliputi informasi mengenai penurunan tajam penglihatan, trauma pada mata, riwayat gejala penyakit mata seperti nyeri, mata terasa gatal, silau, terjadinya gangguan penglihatan, mata merah dan bengkak, hiperemi konjungtiva, dan merasa kelilipan.
c.         Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan pada klien riwayat penyakit yang dialami klien seperti diabetes mellitus, harpes zooster, dan herpes simpleks.
d.        Pengkajian fisik penglihatan
1)   Ketajaman penglihatan
Uji formal ketajaman penglihatan harus merupakan bagian dari setiap data dasar pasien. Tajam penglihatan diuji dengan kartu mata ( snellen ) yang diletakkan 6 meter, menggunakan light pen, dan menggunakan lambaian tangan.
2)   Palpebra superior
Merah,sakit jikaditekan
3)   Palpebra inferior
Bengkak, merah, ditekan keluar secret
4)   Konjungtiva tarsal superior dan inferior
Inspeksi adanya  :
a)    Papil, timbunan sel radang sub konjungtiva yang berwarna merah dengan pembuluh darah ditengahnya
b)   Membran,sel radang di depan mukosa konjungtiva yang bila iangkat akan berdarah, membran merupakan jaringan nekrotik yang terkoagulasi dan bercampur dengan fibrin, menembus jaringan yang lebih dalam dan berwarna abu – abu.
c)    Pseudomembran, membran yang bila diangkat tidak akan berdarah
d)   Litiasis, pembentukan batu senyawa kalsium berupa perkapuran yang terjadipada konjungtiviti kronis.
e)    Sikatrik, terjadi pada trakoma.
5)   Konjungtiva bulbi
a)    Sekresi
b)   Injeksi konjungtival
c)    Injeksi siliar
d)   Kemosis konjungtiva bulbi, edema konjungtiva berat
e)    Flikten peradangan disertai neovaskulrisasi
6)   Kornea
a)    Erosi kornea, uji fluoresin positif
b)   Infiltrat, tertibunnya sel radang
c)    Pannus, terdapat sel radang dengan adanya pembuluh darah yang membentuk tabir kornea
d)   Flikten
e)    Ulkus
f)    Sikatrik
7)   Bilik depan mata
a)    Hipopion, penimbunan sel radang dibagian bawah bilik mata depan
b)   Hifema, perdarahan pada bilik mata depan
8)   Iris
a)    Rubeosis, radang pada iris
b)   Gambaran kripti pada iris
9)   Pupil
a)    Reaksi sinar, isokor
b)   Pemeriksaan fundus okuli dengan optalmoskop untuk melihat
adanya kekeruhan pada media penglihatan yang keruh seperti pada kornea, lensa dan badan kaca.

2.      Diagnosa Keperawatan

Ihsan (2009), mengemukakan bahwa diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan keratitis, yaitu :
a.    Nyeri berhubungan dengan iritasi atau infeksi pada mata
b.    Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori / status organ indera.
c.    Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kontak sekret dengan mata sehat atau mata orang lain
d.   Ansietas  berhubungan dengan  faktor fisiologis, perubahan status kesehatan : adanya nyeri; kemungkinan / kenyataan kehilangan penglihatan.

3.  Intervensi Keperawatan
a.    Diagnosa Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan iritasi atau infeksi pada mata.
Tujuan : Setelah dilakukanya tindakan keperawatan secara komprehensif selama 1 x 24 jam diharapkan bahwa nyeri teratasi.
Kriteria hasil : Nyeri berkurang, pasien merasa nyaman
Intervensi :
1)   Anjurkan klien untuk mengompres mata dengan air hangat.
Rasional : Untuk menurunkan bengkak pada mata.
2)   Anjurkan pasien untuk tidak menggosok – gosok mata yang sakit terutama dengan tangan.
Rasional : Dapat mengurasi iritasi pada mata dan mengurangi nyeri.
3)   Anjurkan pasien menggunakan kacamata pelindung jika bepergian.
Rasional : Agar tidak terinfeksi atau iritasi pada mata.
4)   Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik dan antibiotic topical.
Rasional : Mengurangi nyeri dan mengatasi infeksi yang terjadi.
5)  Evaluasi skala nyeri klien.
     Rasional : Dapat mengetahui skala nyeri klien.
b.  Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan b/d gangguan penerimaan sensori / status organ indera.
Kemungkinan dibuktikan oleh: menurunnya ketajaman, gangguan penglihatan, perubahan respon biasanya terhadap rangsang.
Tujuan : Setelah dilakukanya tindakan keperawatan secara komprehensif selama 1 x 24 jam diharapkan bahwa pasien dapat beraktivitas dengan baik.
Kriteria hasil :
Pasien akan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu, mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan, dan mengidentifikasi / memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
Mandiri
1)   Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain di areanya.
Rasional : Pasien dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
2)   Lakukan tindakan untuk membantu pasien menangani keterbatasan penglihatan seperti kurangi kekacauan, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat dan perbaiki sinar suram.
Rasional : Membantu pasien dalam beraktivitas.
3)   Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.
Rasional : Dapat mengidentifikasi intervensi lanjutan.
4)   Evaluasi ketajaman penglihatan pasien, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
Rasional : Mengetahui ketajaman penglihatan pasien.
c.  Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kontak sekret dengan mata sehat atau mata orang lain.
Tujuan : Setelah dilakukanya tindakan keperawatan secara komprehensif selama 1 x 24 jam diharapkan bahwa infeksi penyebaran tidak terjadi.
Kriteria Hasil : Meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen, eritema, dan demam, serta mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi
Intervensi:
1)   Berikan therapi sesuai program dokter.
Rasional : Mencegah / mengurangi iritasi mata pasien.
2)   Anjurkan penderita istirahat untuk mengurangi gerakan mata.
Rasional : Mengurangi resiko penyebaran infeksi mata.
3)   Berikan makanan yang seimbang untuk mempercepat penyembuhan
Rasional : Dapat mempercepat penyembuhan mata.
Mandiri
4)   Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/mengobati mata.
Rasional : Mencegah terjadinya resiko infeksi
5)   Gunakan/tunjukkan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan, ganti balutan.
Rasional : Mengurangi resiko infeksi mata.
6)   Tekankan pentingnya tidak menyentuh/menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat
Rasional : Mencegah terjadinya penyebaran infeksi.
7)   Anjurkan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan.
Rasional : Mencegah  terjadinya infeksi lanjut.
8)   Evaluasi tanda-tanda infeksi
Rasional : Mengetahui apakah infeksi masih terjadi atau tidak.
d. Diagnosa Keperawatan : Ansietas  berhubungan dengan  faktor fisiologis, perubahan status kesehatan : adanya nyeri; kemungkinan /kenyataan kehilangan penglihatan.
Tujuan : Setelah dilakukanya tindakan keperawatan secara komprehensif selama 1 x 24 jam diharapkan bahwa pasien tidak merasa cemas.
Kriteria hasil :Pasien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
Intervensi :
1)   Berikan informasi yang akurat dan jujur.
Rasional : Pasien mendapatkan informasi yang akurat mengenai penyakitnya.
2)   Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dan pengobatan dapat mencegah kehilangan penglihatan tambahan.
Rasional : Pasien memahami tentang pengobatan yang akan dijalaninya.
3)   Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan pasien.
4)   Identifikasi sumber / orang yang dekat dengan klien.
Rasional : Meningkatkan koping pasien.
5)   Evaluasi tingkat ansetas, derajat pengalaman nyeri / timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan pasien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar