Selasa, 05 Februari 2013

ASKEP TULI KONDUKTIF DAN SENSORI



BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Berkurangnya pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga. Sedangkan Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat berat yang bisa disebabkan oleh suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif). Selain itu disebabkan oleh kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak  yang merupakan penurunan fungsi pendengaran sensorineural (Billy Antony, 2008).
Gangguan pendengaran merupakan defisit sensorik yang paling sering pada populasi manusia, mempengaruhi lebih dari 250 juta orang di dunia.Di dunia, menurut perkiraan WHO pada tahun 2005 terdapat 278 juta orang menderita gangguan pendengaran, 75 - 140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Sedangkan pada bayi, terdapat 0,1 – 0,2% menderita tuli sejak lahir atau setiap 1.000 kelahiran hidup terdapat 1 – 2 bayi yang menderita tuli. Dari hasil "WHO Multi Center Study" pada tahun 1998, Indonesia termasuk 4 (empat) negara di Asia Tenggara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi (4,6%) yang dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat.
Ketulian dibagi menjadi dua. Ketuliandibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainan terletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengan tulang pendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapat ditolong baik dengan pengobatan atau dengan suatu tindakan misalnya pembedahan.Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di koklea sampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi ini biasanya sulit dalam pengobatannya.Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan disebut tuli campuran.

1.2  Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Dapat menganalisa asuhan keperawatan pada klien dengan tuli konduksi dan sensorineural.
1.2.2        Tujuan Khusus
1.      Menjelaskan definisi dari tuli konduksi dan sensorineural.
2.      Menjelaskan etoilogi dari tuli konduksi dan sensorineural.
3.      Menjelaskan klasifikasi dari tuli konduksi dan sensorineural.
4.      Menjelaskan patofisiologi dari tuli konduksi dan sensorineural.
5.      Menjelaskan manifestasi klinis dari tuli konduksi dan sensorineural.
6.      Menjelaskan penetalaksanaan medis dari tuli konduksi dan sensorineural.
7.      Menjelaskan pengkajian pada asuhan keperawatan klien tuli konduksi dan sensorineural.
8.      Menjelaskan diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan klien tuli konduksi dan sensorineural.
9.      Menjelaskan rencana tindakan/intervensi pada asuhan keperawatan tuli konduksi dan sensorineural.
10.  Menjelaskan kriteria hasil pada setiap diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan klien dengantuli konduksi dan sensorineural.

1.3  Manfaat
1.3.1        Bagi Mahasiswa
Mahasiswa dapat lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan tuli konduksi dan sensorineural.
1.3.2        Bagi Perawat
Perawat atau tenaga kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang tuli konduksi dan sensorineural sehingga dapat melakukan asuhan keperawatan secara profesional.  


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    KONSEP TELINGA
1.      ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PENDENGARAN
Telinga dibagi 3 bagian, yaitu:
a.       Telinga luar (auris eksterna)
          Aurikulum : menangkap gelombang suara dan meneruskannya ke MAE
          Meatus akustikus eksternus : meneruskan gelombang suara ke membrane timpani
          Membran timpani : untuk proses resonansi
b.      Telinga tengah (auris media)
          Kavum timpani     : tempat tulang – tulang pendengaran berada
          Tuba Eustachius    : saluran yang menghubungkan antara telinga tengah dengan telinga dalam
          Antrum & sel-sel mastoid
b.      Telinga dalam (auris interna = labirin)
          Koklea (organ auditivus) : untuk keseimbangan
          Labirin vestibuler (organ vestibuler /status) : untuk keseimbangan

2.      PROSES PENDENGARAN
Gelombang suara yang berasal dari udara ditangkap oleh aurikulla kemudian diteruskan ke MAE ( Meatus Akustikus Externa ), kemudian dilanjutkan ke membran timpani. Setelah masuk di membran timpani, gelombang udara tersebut menggerakkan tulang – tulang pendengaran, yang terdiri dari tulang incus, stapes dan maleus. Setelah itu menuju ke foramen ovale. Dari foramen ovale, merangsang Koklea untuk mengeluarkan cairan. Cairan koklea tersebut kemudian menuju ke membran basilaris, merangsang pergerakan hair cells. Diteruskan ke cortex auditorius. Kemudian kita dapat mendengar suatu bunyi.
B.     KONSEP TULI KONDUKTIF
1.      DEFINISI
Tuli Konduktif atau Conductive Hearing Loss (CHL) adalah jenis ketulian yang tidak dapat mendengar suara berfrekuensi rendah. Misalnya tidak dapat mendengar huruf U dari kata susu sehingga penderita mendengarnya ss. Biasanya gangguan ini “reversible” karena kelainannya terdapat di telinga luar dan telinga tengah(Purnawan Junadi,dkk. 1997, hal. 238).
Tuli kondusif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran. (Indro Soetirto: 2003)

2.    ETIOLOGI
Pada telinga luar dan telinga tengah proses degenerasi dapat menyebabkan perubahan atau kelainan diantaranya sebagai berikut :
a.    Berkurangnya elastisitas dan bertambah besarnya ukuran daun telinga (pinna)
b.    Atropi dan bertambah kakunya liang telinga
c.    Penumpukan serumen
d.   Membrane tympani bertambah tebal dan kaku
e.    Kekuatan sendi tulang-tulang pendengaran
f.     Kelainan bawaan (Kongenital)
Atresia liang telinga, hipoplasia telinga tengah, kelainan posisi tulang-tulang pendengaran dan otosklerosis.
Penyakit otosklerosis banyak ditemukan pada bangsa kulit putih
g.      Gangguan pendengaran yang didapat, misal otitis media

3.    MANIFESTASI KLINIS
a.    rasa penuh pada telinga
b.    pembengkakan pada telinga bagian tengah dan luar
c.    rasa gatal
d.   trauma
e.    tinnitus

4.    PATOFISIOLOGI
Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.

5.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
·      Audiometri
·      X-ray

6.    PENALAKSANAAN
Liang telinga di bersihkan secara teratur. dapat diberikan larutan asam asetat 2-5 % dalam alcohol yang di teteskan ke liang teling atau salep anti jamur. Tes suara bisikan, Tes garputala.

 

C.    KONSEP TULI SENSORINEURAL
1.   DEFINISI
Tuli sensorineural adalah kerusakan telinga bagian dalam dan hubungan saraf otak yang terbagi atas tuli sensorineural koklea dan tuli sensorineural retrokoklea.Tuli sensorineural koklea disebabkan aplasia, labirinitis, intoksikasi obat ototaksik atau alkohol.Dapat juga disebabkan tuli mendadak, tauma kapitis, trauma akustik dan pemaparan bising tuli sensorineural retrokoklea disebabkan neuoroma akustik, tumor sudut pons serebellum, mieloma multipel, cedera otak, perdarahan otak, dan kelainan otak lainnya. (Indro Soetirto: 2003)

2.   ETIOLOGI
Faktor-faktor resiko tinggi yang penyebab tuli sensorineural yaitu:
a.    Tuli Bawaan (Genetik).
b.   Tuli Rubella.
c.    Tuli dan Kelahiran Prematur
d.   Tuli Ototosik.

3.   KLASIFIKASI
Dibagi menjadi tuli sensori neural coklea atau retrokoklea.
a.    Tuli sensori neural coclea
- Aplasia (kongenital)
- Labirintitis oleh bakteri/virus
- Intoksikasi obat streptomisin, kanamisin, garamisin, neomisin, kina, asetosal atau alkohol.
- Trauma kapitis
- Trauma akustik
- Pemaparan bising
- Presbicusis
b.   Tuli sensori neural retrokoklea
- Neuroma akustik
- Tumor sudut pons serebellum
- Cidera otak
- Perdarahan otak

4.   MANIFESTASI KLINIS
Rasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga. Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telingaakan tampak benda asing tersebut.

5.   PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.    Pemeriksaan Dengan Garputala
Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran udara dinilai dengan menempatkan garputala yang telah digetarkan di dekat telinga sehingga suara harus melewati udara agar sampai ke telinga.Penurunan fungsi pendengaran atau ambang pendengaran subnormal bisa menunjukkan adanya kelainan pada saluran telinga, telinga tengah, telinga dalam, sarat pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak.Pada dewasa, pendengaran melalui hantaran tulang dinilai dengan menempatkan ujung pegangan garputala yang telah digetarkan pada prosesus mastoideus (tulang yang menonjol di belakang telinga).
Getaran akan diteruskan ke seluruh tulang tengkorak, termasuk tulang koklea di telinga dalam. Koklea mengandung sel-sel rambut yang merubah getaran menjadi gelombang saraf, yang selanjutnya akan berjalan di sepanjang saraf pendengaran.
Pemeriksaan ini hanya menilai telinga dalam, saraf pendengaran dan jalur saraf pendengaran di otak. Jika pendengaran melalui hantaran udara menurun, tetapi pendengaran melalui hantaran tulang normal, dikatakan terjadi tuli konduktif.Jika pendengaran melalui hantaran udara dan tulang menurun, maka terjadi tuli sensorineural. Kadang pada seorang penderita, tuli konduktif dan sensorineural terjadi secara bersamaan
b.   Audiometri
Audiometri dapat mengukur penurunan fungsi pendengaran secara tepat, yaitu dengan menggunakan suatu alat elektronik (audiometer) yang menghasilkan suara dengan ketinggian dan volume tertentu. Ambang pendengaran untuk serangkaian nada ditentukan dengan mengurangi volume dari setiap nada sehingga penderita tidak lagi dapat mendengarnya.Telinga kiri dan telinga kanan diperiksa secara terpisah.Untuk mengukur pendengaran melalui hantaran udara digunakan earphone, sedangkan untuk mengukur pendengaran melalui hantaran tulang digunakan sebuah alat yang digetarkan, yang kemudian diletakkan pada prosesus mastoideus.
c.    Audimetri Ambang Bicara
Audiometri ambang bicara mengukur seberapa keras suara harus diucapkan supaya bisa dimengerti. Kepada penderita diperdengarkan kata-kata yang terdiri dari 2 suku kata yang memiliki aksentuasi yang sama, pada volume tertentu. Dilakukan perekaman terhadap volume dimana penderita dapat mengulang separuh kata-kata yang diucapkan dengan benar.
d.   Diskriminasi
Dengan diskriminasi dilakukan penilaian terhadap kemampuan untuk membedakan kata-kata yang bunyinya hampir sama. Digunakan kata-kata yang terdiri dari 1 suku kata, yang bunyinya hampir sama.Pada tuli konduktif, nilai diskriminasi (persentasi kata-kata yang diulang dengan benar)biasanya berada dalam batas normal.Pada tuli sensori, nilai diskriminasi berada di bawahnormal.Pada tuli neural, nilai diskriminasi berada jauh di bawah normal.
e.    Timpanometri
Timpanometri merupakan sejenis audiometri, yang mengukur impedansi (tahanan terhadap tekanan) pada telinga tengah.Timpanometri digunakan untuk membantu menentukan penyebab dari tuli konduktif.Prosedur in tidak memerlukan partisipasi aktif dari penderita dan biasanya digunakan padaanak-anak.Timpanometer terdiri dari sebuah mikrofon dan sebuah sumber suara yang terus menerus menghasilkan suara dan dipasang di saluran telinga.Dengan alat ini bisa diketahui berapa banyak suara yang melalui telinga tengah dan berapabanyak suara yang dipantulkan kembali sebagai perubahan tekanan di saluran telinga.Hasil pemeriksaan menunjukkan apakah masalahnya berupa:
·      penyumbatan tuba eustakius (saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan hidung bagian belakang)
·      cairan di dalam telinga tengah
·      kelainan pada rantai ketiga tulang pendengaran yang menghantarkan suara melalui telinga tengah.
Timpanometri juga bisa menunjukkan adanya perubahan pada kontraksi otot stapedius, yangmelekat pada tulang stapes (salah satu tulang pendengaran di telinga tengah).Dalam keadaan normal, otot ini memberikan respon terhadap suara-suara yang keras/gaduh(refleks akustik) sehingga mengurangi penghantaran suara dan melindungi telinga tengah.Jika terjadi penurunan fungsi pendengaran neural, maka refleks akustik akan berubah ataumenjadi lambat. Dengan refleks yang lambat, otot stapedius tidak dapat tetap berkontraksiselama telinga menerima suara yang gaduh.
f.    Respon Auditoris Batang Otak
Pemeriksaan ini mengukur gelombang saraf di otak yang timbul akibat rangsangan pada saraf pendengaran.Respon auditoris batang otak juga dapat digunakan untuk memantau fungsi otak tertentu pada penderita koma atau penderita yang menjalani pembedahan otak.
g.   Elektrokokleografi
Elektrokokleografi digunakan untuk mengukur aktivitas koklea dan saraf pendengaran.Kadang pemeriksaan ini bisa membantu menentukan penyebab dari penurunan fungsipendengaran sensorineural.Elektrokokleografi dan respon auditoris batang otak bisa digunakan untuk menilaipendengaran pada penderita yang tidak dapat atau tidak mau memberikan respon bawah sadarterhadap suara.Misalnya untuk mengetahui ketulian pada anak-anak dan bayi atau untuk memeriksa hipakusis psikogenik (orang yang berpura-pura tuli).Beberapa pemeriksaan pendengaran bisa mengetahui adanya kelainan pada daerah yang mengolah pendengaran di otak.
Pemeriksaan tersebut mengukur kemampuan untuk:
·   mengartikan dan memahami percakapan yang dikacaukan
·   memahami pesan yang disampaikan ke telinga kanan pada saat telinga kiri menerima pesan yang lain
·   menggabungkan pesan yang tidak lengkap yang disampaikan pada kedua telinga menjadi pesan yang bermakna
·   menentukan sumber suara pada saat suara diperdengarkan di kedua telinga pada waktu yang
bersamaan.
Jalur saraf dari setiap telinga menyilang ke sisi otak yang berlawanan, karena itu kelainan pada otak kanan akan mempengaruhi pendengaran pada telinga kiri. Kelainan pada batang otak bisa mempengaruhi kemampuan dalam menggabungkan pesan yang tidak lengkap menjadi pesan yang bermakna dan dalam menentukan sumber suara.
Beberapa pemeriksaan yang khusus dilakukan pada anak – anak adalah:
1.   Free Field Test
Dilakukan pada ruangan kedap suara dan diberikan rangsangan suara dalam berbagai frekuensi untuk menilai respons anak terhadap bunyi
2.   Behavioral Observation (0 – 6 bulan)
Pada pemeriksaan ini diamati respons terhadap sumber bunyi berupa perubahan sikap atau refleks pada bayi yang sedang diperiksa
3.   Conditioned Test (2 – 4 tahun)
Anak dilatih untuk melakukan suatu kegiatan saat mendengar suara stimuli tertentu.
4.   B.E.R.A (Brain Evoked Response Audiometry)
Dapat menilai fungsi pendengaran anak atau bayi yang tidak kooperatif

6.   PENATALAKSANAAN
Pengobatan untuk penurunan fungsi pendengaran tergantung kepada penyebabnya.Jika penurunan fungsi pendengaran konduktif disebabkan oleh adanya cairan di telinga tengah atau kotoran di saluran telinga, maka dilakukan pembuangan cairan dan kotoran tersebut.Jika penyebabnya tidak dapat diatasi, maka digunakan alat bantu dengar atau kadang dilakukan pencangkokan koklea.
a.       Alat bantu dengar
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere, yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan lancar.
Alat bantu dengar terdiri dari:
- Sebuah mikrofon untuk menangkap suara
- Sebuah amplifier untuk meningkatkan volume suara
- Sebuah speaker utnuk menghantarkan suara yang volumenya telah dinaikkan.
Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi pendengaran). Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan suatu alat bantu dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan hal-hal berikut:
- kemampuan mendengar penderita
- aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja
- keterbatasan fisik
- keadaan medis
- penampilan
- harga
1)   Alat Bantu Dengar Hantaran Udara
Alat ini paling banyak digunakan, biasanya dipasang di dalam saluran telinga dengan sebuah penutup kedap udara atau sebuah selang kecil yang terbuka.
2)   Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Badan
Digunakan pada penderita tuli dan merupakan alat bantu dengar yang paling kuat. Alat ini disimpan dalam saku kemeja atau celana dan dihubungkan dengan sebuah kabel ke alat yang dipasang di saluran telinga.Alat ini seringkali dipakai oleh bayi dan anak-anak karena pemakaiannya lebih mudah dan tidak mudah rusak.
3)   Alat Bantu Dengar Yang Dipasang Di Belakang Telinga
Digunakan untuk penderita gangguan fungsi pendengaran sedang sampai berat.Alat ini dipasang di belakang telinga dan relatif tidak terlihat oleh orang lain.
4)   CROS (contralateral routing of signals)
Alat ini digunakan oleh penderita yang hanya mengalami gangguan fungsi pendengaran pada salah satu telinganya.Mikrofon dipasang pada telinga yang tidak berfungsi dan suaranya diarahkan kepada telinga yang berfungsi melalui sebuah kabel atau sebuah transmiter radio berukuran mini.Dengan alat ini, penderita dapat mendengarkan suara dari sisi telinga yang tidak berfungsi.
5)   BICROS (bilateral CROS)
Jika telinga yang masih berfungsi juga mengalami penuruna fungsi pendengaran yang ringan,maka suara dari kedua telinga bisa diperkeras dengan alat ini.
6)   Alat Bantu Dengar Hantaran Tulang
Alat ini digunakan oleh penderita yang tidak dapat memakai alat bantu dengar hantaran udara, misalnya penderita yang terlahir tanpa saluran telinga atau jika dari telinganya keluar cairan otore. Alat ini dipasang di kepala, biasanya di belakang telinga dengan bantuan sebuah pita elastis.Suara dihantarkan melalui tulang tengkorak ke telinga dalam. Beberapa alat bantu dengar hantaran tulang bisa ditanamkan pada tulang di belakang telinga.
b.      Pencangkokan koklea
Pencangkokan koklea (implan koklea) dilakukan pada penderita tuli berat yang tidak dapat mendengar meskipun telah menggunakan alat bantu dengar. Alat ini dicangkokkan di bawah kulit di belakang telinga dan terdiri dari 4 bagian:
-     Sebuah mikrofon untuk menangkap suara dari sekitar
-     Sebuah prosesor percakapan yang berfungsi memilih dan mengubah suara yang tertangkap oleh mikrofon
-     Sebuah transmiter dan stimulator/penerima yang berfungsi menerima sinyal dari prosesor percakapan dan merubahnya menjadi gelombang listrik
-     Elektroda, berfungsi mengumpulkan gelombang dari stimulator dan mengirimnya ke otak.
Suatu implan tidak mengembalikan ataupun menciptakan fungsi pendengaran yang normal, tetapi bisa memberikan pemahaman auditoris kepada penderita tuli dan membantu mereka dalam memahami percakapan. Implan koklea sangat berbeda dengan alat bantu dengar. Alat bantu dengar berfungsi memperkeras suara. Implan koklea menggantikan fungsi dari bagian telinga dalam yang mengalami kerusakan.
Jika fungsi pendengaran normal, gelombang suara diubah menjadi gelombang listrik oleh telinga dalam.Gelombang listrik ini lalu dikirim ke otak dan kita menerimanya sebagai suara. Implan koklea bekerja dengan cara yang sama. Secara elektronik, implan koklea menemukan bunyi yang berarti dan kemudian mengirimnya ke otak.

D.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
a.       Pengkajian
Riwayat :
·      identitas pasien,
·      riwayat adanya kelainan nyeri,
·      infeksi saluran nafas atas yang berulang,
·      riwayat infeksi
·      nyeri telinga
·      rasa penuh dan penurunan pendengaran
·      suhu meningkat
·      malaise
·      vertigo
·      Aktifitas terbatas
·      Takut mengahadapi tindakan pembedahan

b.      Pemeriksaan fisik
B1(breathing)                          : infeksi saluran pernafasan atas yang
berulang
B2(blood)                                : tidak ada kelainan pada sistem
kardiovaskuler
B3(brain)                                 : pusing, vertigo,nyeri, rasa penuh pada
telingga
B4(bladder)                             : tidak ada kelainan
B5(bowel)                               : tidak ada kelainan
B6(bone&muskuluskeletal)     : malaise, aktivitas terbatas, suhu meningkat

c.       Diagnosa keperawatan
1.    Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
2.    Gangguan sensori / presepsi berhubungan dengan kerusakan pada telingatengah
3.    Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri
4.    Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otore
5.    Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
6.    Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan
7.    Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.
8.    Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan berkurangnya pendengaran.

d.      Intervensi Keperawatan
1.    Nyeri berhubungan dengan proses peradangan
Tujuan : Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri
Intervensi:
·      Kaji nyeri, lokasi,karasteristik, mulai timbul, frekuensi dan intensitas, gunakan tingkat ukuran nyeri
R/ : untuk mengukur tingkat/kualitas nyeri guna intervensi selanjutnya
·      Ajarkan dan bantu dengan alternative teknik pengurangan nyeri (misalnya imajinasi, musik, relaksasi)
R/ : pengalihan perhatian dapat mengurangi nyeri
·      Ubah posisi setiap 2 sampai 4 jam
R/ : posisi yang nyaman dapat membantu mengurangi tingkat nyeri.
·      Berikan analgesik jika dipesankan
R/ : analgesic dapat mengurangi nyeri.

2.    Gangguan sensori / persepsi berhubungan dengan kerusakan pada telinga tengah
Tujuan : Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik
Intervensi:
·      Kaji tingkat gangguan persepsi pendengaran klien
R/ : untuk mengukur tingkat pendengaran pasien guna intervensi selanjutnya
·      Berbicara pada bagian sisi telinga yang baik
R/ : berbicara pada bagian sisi telinga yang baik dapat membatu klien dalam proses komunikasi
·      Bersihkan bagian telinga yang kotor
R/ : telinga yang bersih dapat membantu dalam proses pendengaran yang baik
·      Kolaborasi dengan dokter dengan tindakan pembedahan
R/: tindakan pembedahan dapat membatu klien memperoleh pendengaran yang baik

3.    Intoleransi aktifitas berhubungan dengan nyeri
Tujuan : klien dapat melakukan aktivitas dengan baik
Intervensi:
·      Kaji tingkat intoleransi klien
R/ : Untuk mengetahui tingkat aktivitas klien guna intervensi selanjutnya
·      Bantu klien untuk melakukan aktifitas sehari-hari
R/ : Bantuan terhadap aktifitas klien dapat mempermudah pemenuhan kebutuhan klien
·      Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas yang ringan
R/ : Aktivitas yang ringan dapat membantu mengurangi energy yang keluar
·      Libatkan keluarga untuk proses perawatan dan aktivitas klien
R/ : Keluarga memiliki peranan penting dalam aktifitas sehari-hari klien selama perawatan
·      Ajurkan klien untuk istirahat yang cukup
R/ : Istirahat yang cukup dapat mebantu meminimalkan pengeluaran energy.

4.    Isolasi sosial berhubungan dengan nyeri, otorrhea.
Tujuan : pola koping klien adekuat
Intervensi:
·      Kaji tingkat koping klien terhadap penyakit yang dialaminya
R/ : Untuk mengetahui tingkat koping pasien terhadap penyakitnya guna intervensi selanjutnya.
·      Kaji tingkat pola koping keluarga terhadap penyakit yang dialami klien
R/ : Pola koping keluarga mempengaruhi koping pasien terhadap penykitnya
·      Berikan informasi yang adekuat mengenai penyakit yang dialami klien.
R/ : Informasi adekuat dapat memperbaiki koping pasien terhadap penyakitnya
·      Berikan motivasi kepada klien dalam menghadapi penyakitnya
R/ : Motivasi dapat membantu pasien dalam menghadapi penyakitnya dan menjalani pengobatan sehingga klien tidak merasa sendirian.
·      Anjurkan keluarga untuk selalu memotivasi klien.
R/ : Motivasi dari keluarga sangat membantu proses koping pasien.

5.    Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan
Tujuan : klien dapat mengerti mengenai penyakitnya.
Intervensi:
·      Kaji tingkat pendidikan klien
R/ : Untuk mengetahui tingkat pendidikan klien guna intervensi selanjutnya
·      Kaji tingkat pengetahuan klien tentang prognosis penyakitnya
R/ : untuk mengukur sejauh mana klien mengetahui tentang penyakitnya
·      Berikan informasi yang lengkap mengenai penyakit klien.
R/ : informasi yang lengkap dapat menambah pengetahuan klien sekaligus mengurangi tingkat kecemasa
n
·      Berikan informasi yang akurat jika klien membutuhkan informasi tentang penyakitnya.
R/ : pemberian informasi yang akurat dapat menambah informasi tentang penyakit yang dialami klien

6.    Ansietas berhubungan dengan prosedur perubahan status kesehatan dan pengobatan
Tujuan : klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria.
Intervensi:
·      Kaji tingkat ansietas klien terhadap penyakitnya
R/ : untuk mengukur tingakt kecemasan klien terhadap penyakitnya guna implementasi selanjutnya.
·      Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya
R/ : sebagai tolak ukur untuk memberikan informasi selanjutnya mengenai penyakit yang di alaminya.
·      Berikan informasi klien tentang penyakitnya.
R/: Informasi yang adekuat dapat mengurangi kecemassan klien terhadap penyakitnya
·      Berikan dorongan pada klien dalam menghadapi penyakitnya.
R/: Dorongan yang adekuat dapat menurunkan tingkat kecemasan klien sekaligus memberikan perhatian kepada klien.
·      Libatkan keluarga klien dalam proses pengobatan
R/: Keluarga klien memiliki peranan penting dalam proses penyembuhan dan menurunkan tingkat kecemasan klien.

7.      Cemas berhubuangan dengan prosedur operasi, diagnosis, prognosis, anestesi, nyeri, hilangnya fungsi, kemungkinan penurunan pendengaran lebih besar setelah operasi.
Tujuan                     : Rasa cemas klien akan berkurang/hilang.
Kriteria hasil           : Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekhawatirannya.
Intervensi Keperawatan :
·         Mengatakan hal sejujurnya kepada klien ketika mendiskusikan mengenai kemungkinan kemajuan dari fungsi pendengarannya untuk mempertahankan harapan klien dalam berkomunikasi.
R/ Harapan-harapan yang tidak realistik tiak dapat mengurangi kecemasan, justru malah menimbulkan ketidak percayaan klien terhadap perawat. Menunjukkan kepada klien bahwa dia dapat berkomunikasi dengan efektif tanpa menggunakan alat khusus, sehingga dapat mengurangi rasa cemasnya.
·         Berikan informasi mengenai kelompok yang juga pernah mengalami gangguan seperti yang dialami klien untuk memberikan dukungan kepada klien.
R/ Dukungan dari bebarapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan sangat membantu klien.
·         Berikan informasi mengenai sumber-sumber dan alat-lat yang tersedia yang dapat membantu klien.
R/ Agar klien menyadari sumber-sumber apa saja yang ada disekitarnya yang dapat mendukung dia untuk berkomunikasi.

8.      Gangguan harga diri rendah berhubungan dengan berkurangnya pendengaran.
Tujuan          : Pendengaran menjadi normal, sehingga meningkatkan rasa percaya diri klien
Kriteria Hasil : Percaya diri klien meningkat karena dapat mendengar dengan normal.
Intervensi keperawatan :
·           Menggunakan alat bantu pendengaran, seperti koklear implant.
R/ dengan menggunakan alat bantu pendengaran meningkatkan respon pendengaran klien, sehingga klien dapat mendengar suara dengan normal, sehingga komunikasi klien dengan orang lain tetap lancar.
·           Ajari klien menggunakan bahasa isyarat, atau body language dan media tulisan.
R/ Klien dapat berkomunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa tubuh atau bahasa isyarat lainnya dan bisa juga dengan ditulis, sehingga komunikasi klien tetap lancar.
·           Ajari keluarga dan kolega klien untuk berbicara lebih keras atau cenderung  mendekat ke telinga yang sehat.
R/  Memudahkan klien untuk mendengar, sehingga komunikasi klien tetap lancar, harga diri klien meningkat.
e.       Implementasi
Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang telah dibuat dengan menyesuaikan terhadap kondisi klien.
f.       Evaluasi
1.    Pasien mengambarkan nyeri dalam keadan minimal atau tidak ada nyeri
2.    Klien memperlihatkan persepsi pendengaran yang baik
3.    Klien dapat melakukan aktivitas dengan baik
4.    Pola koping klien adekuat
5.    Klien dapat mengeti dengan penyakitnya
6.    Klien memperlihatkan ekspresi wajah yang ceria
Top of Form

BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Ketuliandibidang konduksi atau disebut tuli konduksi dimana kelainanterletak antara meatus akustikus eksterna sampai dengana tulangpendengaran stapes. Tuli di bidang konduksi ini biasanya dapatditolong dengan memuaskan, baik dengan pengobatan ataudengan suatu tindakan misalnya pembedahan.Tuli yang lain yaitu tuli persepsi (sensori neural hearing-loss) dimana letak kelainan mulai dari organ korti di kokleasampai dengan pusat pendengaran di otak. Tuli persepsi inibiasanya sulit dalam pengobatannya.Apabila tuli konduksi dan tuli persepsi timbul bersamaan,disebut tuli campuran.Untuk mengetahui jenis ketulian diperlukan pemeriksaanpendengaran.
B.     Saran
Untuk mencgah terjadinya  tuli perepsi maupun tuli konduksi, sebaiknya :
1.      Hindari suara keras, ramai dan kebisingan.
2.      Hindari diet yang berlemak.Hal-hal lain yang dianjurkan ialah hindari dingin yang berlebihan, rokok yang berlebihan dan stres. Anemia, kekuranganvitamin dan insufisiensi kardiovaskular juga harus segera diobati.








DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC. Jakarta.
George L, Adams. 1997. BOEIS : Buku ajar Penyakit THT. Edisi 6. EGC. Jakarta.
Iskandar, H. Nurbaiti,dkk 1997. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT. Balai Penerbit FKUI. Jakarta.
Mukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. Laboratorium Ilmu Penyakit THT, FK UNAIR. Surabaya.
Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorokan RSUD Dr Soetomo Surabaya
Rukmin, Sri; Herawati, Sri. 1999. Teknik Pemeriksaan THT. EGC. Jakarta.
http://www.nezfine.files.wordpress.com20100520.pdf diakses pada tanggal 14 November 2011
http://www.scribd.com/doc/23723412/TULI-SENSORINEURALdiakses pada tanggal 14 November 2011
Soetirto, Indro.2003. Tuli Akibat Bising dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok Ed.3 Editor: H. Efiaty A.Soepardi dkk. Jakarta: FKUI




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar